Latar Belakang
Permasalahan yang
sering dihadapi oleh setiap organisasi adalah mengenai kinerja karyawan yang
cenderung menurun dari waktu ke waktu yang mengakibatan tidak efektifnya
organisasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kepuasan kerja karyawan.
Subyek dalam penelitian
ini adalah 29 guru PNS baik laki-laki dan perempuan yang telah menjadi pegawai
tetap dan sudah bekerja minimal 1 tahun di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta. Alat
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Skala Kepuasan Kerjadan Skala Kinerja.
Metode analisis
statistik data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi product
moment dari Pearson untuk menguji korelasi kedua variabel yang
diteliti.Hasil penelitian menunjukkan adanyahubungan yang positif dan
signifikan antara kepuasan kerja dan kinerja (rxy= 0,551;p=
0,001).Semakin guru puas dengan pekerjaannya, maka semakin tinggi kinerjanya.
Tujuan
Tujuan
penulisan adalah respons atau jawaban yang diharapkan oleh penulis dari
pembaca. Tujuan penulisan ini yaitu:
1. Untuk
mengetahui secara empiris hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja pada
guru PNS.
Teori
Sumber
daya manusia tetap memegang peran pentingmeskipun peran teknologi semakin
dominan di jaman modern ini. Sumber daya manusia menjadi komponen vital dalam
sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya. Sumber daya manusia itulah yang
menentukan keefektifan suatu organisasi agar dapat berjalan dengan baik karena
sumber daya manusia itu sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
kinerja organisasi. Artinya memiliki
sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal menjadi
harapan setiap organisasi. Yukl (2009) menyatakan bahwa sumber daya manusia
merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam organisasi atau
perusahaan sebab sumber daya manusia adalah penentu keberhasilan suatu
organisasi.Munandar (2008) menambahkan karyawan merupakan asset utama dalam
suatu organisasi dengan kata lain merupakan kekayaan utama organisasi.Mengelola
dan mengembang kan sumber daya manusia dengan baik dapat meningkatkan kinerja
karyawansehingga dapat mencapai efektivitas organisasi. Kinerja dari karyawan
perlu diperhatikan dalam upaya mencapai kualitas sumber daya manusia yang baik
dan efektif.
Keberadaan
karyawan dengan kinerja yang tinggi pada organisasi akan mengantarkan
organisasi pada suatu kondisi yang menguntungkan. Kinerja karyawan merupakan
topik yang multidimensional dan sangat penting untuk kesuksesan organisasi.
Karyawan suatu organisasi apabila menunjukkan kinerja yang rendah maka
organisasi juga akan terkena dampaknya. Realitanya permasalahan yang sering
dihadapi oleh banyak organisasi adalah kinerja karyawan yang cenderung menurun
dari waktu ke waktu yang mengakibatan tidak efektifnya organisasi tersebut.
Menurut
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,sekitar 50 persen
dari 4,7 juta PNS yang ada di Indonesia memiliki kualitas rendah, atautidak
memiliki kapasitas yang mamadai (Kusmana, 2012). Ketua Asosiasi Pengusaha
Indonesia (Apindo), Djimanto, juga menambahkan bahwa kinerja dan produktivitas
Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan
negara lain sehingga menghambat pembangunan ekonomi (Suara Pembaharuan, 2011).
Selama tahun
2010-2013 dari 4,5 juta PNS, sebanyak 741 orang PNS telah dipecat pemerintah.
Pemecatan tersebut terkait dengan pelanggaran disiplin PNS dan yang terbanyak
diantaranya adalah tidak masuk kerja (Mizan, 2013). Data menujukkan dari tahun
ke tahun kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mengalami peningkatan dan
sebaliknya banyak yang diminta pensiun dini, mengundurkan diri bahkan dipecat
oleh pemerintah karena kinerjanya yang buruk.
Kinerja
merupakan semua tindakan atau perilaku yang dikontrol oleh individu dan
memberikan kontribusi bagi pencapaiantujuan-tujuan dari organisasi (Rotundo
& Sackett, 2002). Gibson, Ivancevich & Donelly(2000) menambahkan
kinerja adalah hasil kerja yang terkait dengan tujuan organisasi seperti
kualitas, efisiensi, dan kriteria keefektifan lain yang dicapai selama periode
tertentu melalui usaha yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan serta
pengalaman.Kinerja sebagai perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan yang
relevan terhadap tercapainya tujuan organisasi (Vande, dkk., 2005).
Fakta di atas
lebih spesifik juga ditunjukkan pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru di SLB
Negeri1 Bantul Yogyakarta. Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Bantul merupakan Sekolah
Luar Biasa (SLB) terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai wadah untuk
mendidik anak-anak berkebutuhan khusus seperti tuna daksa/difabel, tuna rungu,
tuna grahita, tuna wicara, penderita retardasi mental, ADHD, autisme, agresif
dan lain lain.Perilaku kinerja yang rendah ditunjukkan adalah perilaku bolos
kerja, absensi, terlambat mengajar, bekerja/mengajar seadanya, tugas-tugas yang
tertunda, kurangnya komunikasi dan kerjasama dengan atasan dan
lain-lain.Sebagai suatu instansi di bidang pendidikan sangat diharapkan guru
SLB Negeri.1 Bantul dapat menunjukkan kinerja yang baik demi mencapai visi,
misi dan tujuan pendidikannya dan mendapatkan penilaian kinerja yang baik dari
pihak luar. Upaya dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan para pegawai yang
mempunyai kinerja yang kuat sebagai langkah awal untuk melaksanakan
tugas-tugasnya sebagai pendidik bangsa, apalagi setelah beberapa diantaranya
yang mendapatkan sertifikasi guru pendidik yang tentu saja semakin menuntut
kinerja, komitmen, loyalitas yang lebih baik sebagai guru yang profesional.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam pandangan masyarakat luas selama ini dianggap
mempunyaikinerja yang rendah terhadap tugas dan pekerjaannya termasuk pegawai
di lingkungan SLBNegeri1 Bantul.
Mengingat
begitu pentingnya kinerja pegawai untuk kesuksesan instansi ataupun untuk
kepentingan pegawai itu sendiri, maka pihak instansi akan berusaha keras untuk
meningkatkan kinerja guru PNS di SLB Negeri1 Bantul. Dalam upaya meningkatkan
kinerja pegawai secara efektif perlu kiranya instansi mengetahui faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi kinerja. Saat ini masih banyak dipahami kinerja
pegawai yang jelek atau buruk berarti pegawai tersebut tidak mempunyai
kemampuan ketrampilan atau inisiatif untuk mengerjakan pekerjaannya. Lebih
parahnya lagi apabila masih ada saja instansi yang beranggapan yang sama dengan
pandangan orang awam pada umumnya, sehingga dalam upaya meningkatkan kinerja
pegawainya juga menjadi tidak tepat karena anggapan-anggapan tersebut. Padahal
kalau dipelajari lebih mendalam ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap
kinerja pegawai salah satunya adalah kepuasan kerja.
Berdasarkan
pengamatan awal dan wawancara yang
dilakukan pada guru PNS di SLBNegeri1 Bantul yang menunjukkan adanya kinerja
yang rendah seperti membolos/terlambat kerja terutama setelah datang dan
presensi kemudian pulang, pemanfaatan jam kerja yang tidak efektif, unjuk kerja
yang seadanya, mengajar terlambat, menyelesaikan tugas terlambat, sering pulang
kantor sebelum jam kantor selesai dan lain-lain tersebut dipengaruhi adanya
ketidakpuasan pegawai. Terlebih lagi bila dukungan instansi dirasakan belum
bisa memberikan kepuasan bagi pegawainya misalnya kesempatan berkarir dan
kesejahteraan karyawannya. Kondisi demikian bisa terjadi berlarut-larut
bilamana tidak segera diantisipasi, dan dicarikan jalan pemecahannya. Akibatnya
kinerja dari instansi menjadi tidak efektif.
Rendahnya
kinerja pegawai khususnya Pegawai Negeri Sipil karena gaji yang rendah serta
kepuasan kerja yang hanya berorientasi pada kepuasan ektrinsik (Scheiher,
Greguras & Watt,2004).
Kepuasan
kerja merupakan sikap secara umum dan tingkat perasaan positif seseorang
terhadap pekerjaannya (Robbins, 2003). Lebih lanjut Greenberg dan Baron (2002)
mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap positif atau negatif yang dimiliki
seseorang terhadap pekerjaannya. Realitanya banyak dijumpai pegawai yang kurang
memiliki kepuasan terhadap pekerjaannya, ketidakpuasan dalam bekerja merupakan
persoalan yang harus ditangani secara serius oleh pihak instansi. Tiffin (dalam
As’ad, 2004) berpendapat bahwa kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap
dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara
pimpinan dengan sesama karyawan.Hal ini sangat penting karena pegawai yang
tidak mendapat kepuasan dalam bekerja akan terdorong untuk bekerja seenaknya,
unjuk kerja seadanya, datang terlambat, mangkir/bolos kerja, tidak mencintai
pekerjaannya, dan bahkan mungkin tidak bisa bertahan ditempat kerjanya. Menurut
Tuhumena (2004), jika tingkat kepuasan kerja pegawai atau karyawan itu rendah,
maka akan mengakibatkan ketidaklancaran organisasi dan proses produksi yang
dikarenakan tingginya tingkat keterlambatan dan kemangkiran serta tingginya
tingkat keluar masuk karyawan.
Banyak
sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai dalam suatu instansi.
Berdasarkan data-data dan uraian di atas, faktor kepuasan kerja itulah yang
diduga berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Oleh karena itu maka perlu
pembuktian secara ilmiah dan kajian secara mendalam mengenai hal itu. Dalam
upaya meningkatkan kinerja pegawai untuk mencapai tujuannya maka kajian ini
sangat menarik. Kiranya penting untuk meneliti pengaruh kepuasan kerja terhadap
kinerja pegawai dalam instansi mengingat peran pentingnya pegawai tersebut bagi
tercapainya tujuan-tujuan instansi. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi
masalah tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu
“Bagaimanakah hubungankepuasan kerja terhadap kinerja pada guru Pegawai Negeri
Sipil (PNS) di SLBNegeri1 Bantul?”.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara kepuasan kerja
dengan kinerja guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SLB Negeri1 Bantul. Hipotesis
yang diajukan adalah terdapat hubungan yang positif antara kepuasan kerja
terhadap kinerja guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SLB Negeri1 Bantul. Semakin
tinggi tingkat kepuasan kerja maka semakin tinggi pula kinerjanya dan semakin
rendah tingkat kepuasan kerja maka semakin rendah pula kinerjanya.
Hipotesis
Rendahnya kinerja seseorang dikarekan banyak faktor
seperti gaji yang tidak memadai, fasilitas yang lengkap dan ketegasan instansi
dalam mensejahterakan karyawannya. Kondisi tersebut bisa menjadi berlarut-larut
jika tidak segera dirubah, pegawai yang tidak mendapat kepuasan dalam bekerja
akan terdorong untuk bekerja seenaknya, unjuk kerja seadanya, datang terlambat,
mangkir/bolos kerja, tidak mencintai pekerjaannya, dan bahkan mungkin tidak
bisa bertahan ditempat kerjanya. Diantara faktor
kepuasan finansial, faktor kepuasan fisik,
faktor kepuasan sosial, dan faktor kepuasan psikologi yang paling mempengaruhi
kinerja.
Poupulasi dan Sampel
Populasi : Keseluruhan objek yang akan diteliti
Sampel : Guru Pegawai Negeri Sipil di SLB Negeri 1
Bantul, Yogyakarta
Metode Penelitian
·
Kinerja pada pegawai diukur dengan Skala Kinerja
yang merupakan skala yang disusun mengacu pada aspek-aspek kinerja menurut
Mitchell (1989) yaitu quality ofwork(kualitas
kerja), promptness(ketepatan waktu), initiative(inisiatif), capability(kemam-puan),
dan communication(komunikasi).
·
Kepuasan kerja pada karyawan diukur dengan Skala
Kepuasan Kerja yang merupakan skala yang mengacu pada aspek-aspek kepuasan
kerja menurut Smith, Kendall, dan Hullin (Luthans, 1992) yang terdiri dari lima
aspek yaitu aspek pekerjaan itu sendiri,
aspek gaji, aspek supervisi, aspek promosi, dan aspek rekan kerja.
·
Analisis data yang digunakan adalah teknik
korelasi product moment dari Pearson.Sebelum melakukan analisis
data menggunakan teknik korelasiproduct moment, terlebih dahulu
dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas. Analisis
data dilakukan dengan menggunakan program Statistik SPSS.
Hasil
Hasil analisis data menunjukkan adanya korelasi positif yang
sangat signifikan antara kepuasan kerja dengan kinerja pada guru PNS (rxy=
0,551; p= 0,001). Artinya semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan,
maka kinerjanya juga semakin tinggi dan sebaliknya semakin rendah kepuasan
kerja yang dirasakan maka kinerjanya juga semakin rendah.
Hasil analisis koefisien determinan R2= 0,304, hal ini menunjukkan
bahwa kepuasan kerja memberi pengaruh sebesar 30,4 % terhadap kinerja, dengan
demikian masihterdapat 69,6 % pengaruh faktor lain yang tidak teridentifikasi
dalam penelitian.Faktor-faktor lain yang diduga ber-pengaruh terhadap kinerja
pegawai menurut Simamora (1995), Gibson, dkk. (2000) dan As’ad (2004)
dikelompokkan menjadi faktor individu, faktor psikologi dan faktor organisasi.
Semakin rendah kepuasan kerja guru yang dirasakan, maka akan
semakin rendah kinerjanya. Kepuasan kerja memberikan sumbangan efektif terhadap
kinerja sebesar 30,4 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel kepuasan
kerja cukup dominan dalam mempengaruhi kinerja guru Pegawai Negeri Sipil di SLB
Negeri1 Bantul. Faktor individu yang meliputi kemampuan, ketrampilan, latar belakang
dan demografis. Faktor psikologi yang meliputi persepsi, sikap, kepribadian,
belajar, dan motivasi. Faktor organisasi yang meliputi sumber daya,
kepemim-pinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan, sistem pengawasan serta
karir.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar