Minggu, 12 Januari 2020

PENGARUH KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA


Latar Belakang
Permasalahan yang sering dihadapi oleh setiap organisasi adalah mengenai kinerja karyawan yang cenderung menurun dari waktu ke waktu yang mengakibatan tidak efektifnya organisasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kepuasan kerja karyawan.
Subyek dalam penelitian ini adalah 29 guru PNS baik laki-laki dan perempuan yang telah menjadi pegawai tetap dan sudah bekerja minimal 1 tahun di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Skala Kepuasan Kerjadan Skala Kinerja.
Metode analisis statistik data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi product moment dari Pearson untuk menguji korelasi kedua variabel yang diteliti.Hasil penelitian menunjukkan adanyahubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan kerja dan kinerja (rxy= 0,551;p= 0,001).Semakin guru puas dengan pekerjaannya, maka semakin tinggi kinerjanya.

Tujuan
Tujuan penulisan adalah respons atau jawaban yang diharapkan oleh penulis dari pembaca. Tujuan penulisan ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui secara empiris hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja pada guru PNS.



Teori
Sumber daya manusia tetap memegang peran pentingmeskipun peran teknologi semakin dominan di jaman modern ini. Sumber daya manusia menjadi komponen vital dalam sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya. Sumber daya manusia itulah yang menentukan keefektifan suatu organisasi agar dapat berjalan dengan baik karena sumber daya manusia itu sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja organisasi.  Artinya memiliki sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal menjadi harapan setiap organisasi. Yukl (2009) menyatakan bahwa sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam organisasi atau perusahaan sebab sumber daya manusia adalah penentu keberhasilan suatu organisasi.Munandar (2008) menambahkan karyawan merupakan asset utama dalam suatu organisasi dengan kata lain merupakan kekayaan utama organisasi.Mengelola dan mengembang kan sumber daya manusia dengan baik dapat meningkatkan kinerja karyawansehingga dapat mencapai efektivitas organisasi. Kinerja dari karyawan perlu diperhatikan dalam upaya mencapai kualitas sumber daya manusia yang baik dan efektif.
Keberadaan karyawan dengan kinerja yang tinggi pada organisasi akan mengantarkan organisasi pada suatu kondisi yang menguntungkan. Kinerja karyawan merupakan topik yang multidimensional dan sangat penting untuk kesuksesan organisasi. Karyawan suatu organisasi apabila menunjukkan kinerja yang rendah maka organisasi juga akan terkena dampaknya. Realitanya permasalahan yang sering dihadapi oleh banyak organisasi adalah kinerja karyawan yang cenderung menurun dari waktu ke waktu yang mengakibatan tidak efektifnya organisasi tersebut.
Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,sekitar 50 persen dari 4,7 juta PNS yang ada di Indonesia memiliki kualitas rendah, atautidak memiliki kapasitas yang mamadai (Kusmana, 2012). Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Djimanto, juga menambahkan bahwa kinerja dan produktivitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan negara lain sehingga menghambat pembangunan ekonomi (Suara Pembaharuan, 2011).
Selama tahun 2010-2013 dari 4,5 juta PNS, sebanyak 741 orang PNS telah dipecat pemerintah. Pemecatan tersebut terkait dengan pelanggaran disiplin PNS dan yang terbanyak diantaranya adalah tidak masuk kerja (Mizan, 2013). Data menujukkan dari tahun ke tahun kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mengalami peningkatan dan sebaliknya banyak yang diminta pensiun dini, mengundurkan diri bahkan dipecat oleh pemerintah karena kinerjanya yang buruk.
Kinerja merupakan semua tindakan atau perilaku yang dikontrol oleh individu dan memberikan kontribusi bagi pencapaiantujuan-tujuan dari organisasi (Rotundo & Sackett, 2002). Gibson, Ivancevich & Donelly(2000) menambahkan kinerja adalah hasil kerja yang terkait dengan tujuan organisasi seperti kualitas, efisiensi, dan kriteria keefektifan lain yang dicapai selama periode tertentu melalui usaha yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan serta pengalaman.Kinerja sebagai perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan yang relevan terhadap tercapainya tujuan organisasi (Vande, dkk., 2005).
Fakta di atas lebih spesifik juga ditunjukkan pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru di SLB Negeri1 Bantul Yogyakarta. Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Bantul merupakan Sekolah Luar Biasa (SLB) terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai wadah untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus seperti tuna daksa/difabel, tuna rungu, tuna grahita, tuna wicara, penderita retardasi mental, ADHD, autisme, agresif dan lain lain.Perilaku kinerja yang rendah ditunjukkan adalah perilaku bolos kerja, absensi, terlambat mengajar, bekerja/mengajar seadanya, tugas-tugas yang tertunda, kurangnya komunikasi dan kerjasama dengan atasan dan lain-lain.Sebagai suatu instansi di bidang pendidikan sangat diharapkan guru SLB Negeri.1 Bantul dapat menunjukkan kinerja yang baik demi mencapai visi, misi dan tujuan pendidikannya dan mendapatkan penilaian kinerja yang baik dari pihak luar. Upaya dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan para pegawai yang mempunyai kinerja yang kuat sebagai langkah awal untuk melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pendidik bangsa, apalagi setelah beberapa diantaranya yang mendapatkan sertifikasi guru pendidik yang tentu saja semakin menuntut kinerja, komitmen, loyalitas yang lebih baik sebagai guru yang profesional. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam pandangan masyarakat luas selama ini dianggap mempunyaikinerja yang rendah terhadap tugas dan pekerjaannya termasuk pegawai di lingkungan SLBNegeri1 Bantul.
Mengingat begitu pentingnya kinerja pegawai untuk kesuksesan instansi ataupun untuk kepentingan pegawai itu sendiri, maka pihak instansi akan berusaha keras untuk meningkatkan kinerja guru PNS di SLB Negeri1 Bantul. Dalam upaya meningkatkan kinerja pegawai secara efektif perlu kiranya instansi mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja. Saat ini masih banyak dipahami kinerja pegawai yang jelek atau buruk berarti pegawai tersebut tidak mempunyai kemampuan ketrampilan atau inisiatif untuk mengerjakan pekerjaannya. Lebih parahnya lagi apabila masih ada saja instansi yang beranggapan yang sama dengan pandangan orang awam pada umumnya, sehingga dalam upaya meningkatkan kinerja pegawainya juga menjadi tidak tepat karena anggapan-anggapan tersebut. Padahal kalau dipelajari lebih mendalam ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kinerja pegawai salah satunya adalah kepuasan kerja.
Berdasarkan pengamatan awal  dan wawancara yang dilakukan pada guru PNS di SLBNegeri1 Bantul yang menunjukkan adanya kinerja yang rendah seperti membolos/terlambat kerja terutama setelah datang dan presensi kemudian pulang, pemanfaatan jam kerja yang tidak efektif, unjuk kerja yang seadanya, mengajar terlambat, menyelesaikan tugas terlambat, sering pulang kantor sebelum jam kantor selesai dan lain-lain tersebut dipengaruhi adanya ketidakpuasan pegawai. Terlebih lagi bila dukungan instansi dirasakan belum bisa memberikan kepuasan bagi pegawainya misalnya kesempatan berkarir dan kesejahteraan karyawannya. Kondisi demikian bisa terjadi berlarut-larut bilamana tidak segera diantisipasi, dan dicarikan jalan pemecahannya. Akibatnya kinerja dari instansi menjadi tidak efektif.
Rendahnya kinerja pegawai khususnya Pegawai Negeri Sipil karena gaji yang rendah serta kepuasan kerja yang hanya berorientasi pada kepuasan ektrinsik (Scheiher, Greguras & Watt,2004).
Kepuasan kerja merupakan sikap secara umum dan tingkat perasaan positif seseorang terhadap pekerjaannya (Robbins, 2003). Lebih lanjut Greenberg dan Baron (2002) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap positif atau negatif yang dimiliki seseorang terhadap pekerjaannya. Realitanya banyak dijumpai pegawai yang kurang memiliki kepuasan terhadap pekerjaannya, ketidakpuasan dalam bekerja merupakan persoalan yang harus ditangani secara serius oleh pihak instansi. Tiffin (dalam As’ad, 2004) berpendapat bahwa kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan sesama karyawan.Hal ini sangat penting karena pegawai yang tidak mendapat kepuasan dalam bekerja akan terdorong untuk bekerja seenaknya, unjuk kerja seadanya, datang terlambat, mangkir/bolos kerja, tidak mencintai pekerjaannya, dan bahkan mungkin tidak bisa bertahan ditempat kerjanya. Menurut Tuhumena (2004), jika tingkat kepuasan kerja pegawai atau karyawan itu rendah, maka akan mengakibatkan ketidaklancaran organisasi dan proses produksi yang dikarenakan tingginya tingkat keterlambatan dan kemangkiran serta tingginya tingkat keluar masuk karyawan.
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai dalam suatu instansi. Berdasarkan data-data dan uraian di atas, faktor kepuasan kerja itulah yang diduga berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Oleh karena itu maka perlu pembuktian secara ilmiah dan kajian secara mendalam mengenai hal itu. Dalam upaya meningkatkan kinerja pegawai untuk mencapai tujuannya maka kajian ini sangat menarik. Kiranya penting untuk meneliti pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai dalam instansi mengingat peran pentingnya pegawai tersebut bagi tercapainya tujuan-tujuan instansi. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu “Bagaimanakah hubungankepuasan kerja terhadap kinerja pada guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SLBNegeri1 Bantul?”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SLB Negeri1 Bantul. Hipotesis yang diajukan adalah terdapat hubungan yang positif antara kepuasan kerja terhadap kinerja guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SLB Negeri1 Bantul. Semakin tinggi tingkat kepuasan kerja maka semakin tinggi pula kinerjanya dan semakin rendah tingkat kepuasan kerja maka semakin rendah pula kinerjanya.

Hipotesis
Rendahnya kinerja seseorang dikarekan banyak faktor seperti gaji yang tidak memadai, fasilitas yang lengkap dan ketegasan instansi dalam mensejahterakan karyawannya. Kondisi tersebut bisa menjadi berlarut-larut jika tidak segera dirubah, pegawai yang tidak mendapat kepuasan dalam bekerja akan terdorong untuk bekerja seenaknya, unjuk kerja seadanya, datang terlambat, mangkir/bolos kerja, tidak mencintai pekerjaannya, dan bahkan mungkin tidak bisa bertahan ditempat kerjanya. Diantara faktor kepuasan finansial, faktor kepuasan fisik, faktor kepuasan sosial, dan faktor kepuasan psikologi yang paling mempengaruhi kinerja.

Poupulasi dan Sampel
Populasi           : Keseluruhan objek yang akan diteliti
Sampel                        : Guru Pegawai Negeri Sipil di SLB Negeri 1 Bantul, Yogyakarta


Metode Penelitian
·                     Kinerja pada pegawai diukur dengan Skala Kinerja yang merupakan skala yang disusun mengacu pada aspek-aspek kinerja menurut Mitchell (1989) yaitu  quality ofwork(kualitas kerja), promptness(ketepatan waktu), initiative(inisiatif), capability(kemam-puan), dan communication(komunikasi).
·                     Kepuasan kerja pada karyawan diukur dengan Skala Kepuasan Kerja yang merupakan skala yang mengacu pada aspek-aspek kepuasan kerja menurut Smith, Kendall, dan Hullin (Luthans, 1992) yang terdiri dari lima aspek  yaitu aspek pekerjaan itu sendiri, aspek gaji, aspek supervisi, aspek promosi, dan aspek rekan kerja.
·                     Analisis data yang digunakan adalah teknik korelasi product moment dari Pearson.Sebelum melakukan analisis data menggunakan teknik korelasiproduct moment, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program Statistik SPSS.

Hasil
Hasil analisis data menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat signifikan antara kepuasan kerja dengan kinerja pada guru PNS (rxy= 0,551; p= 0,001). Artinya semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan, maka kinerjanya juga semakin tinggi dan sebaliknya semakin rendah kepuasan kerja yang dirasakan maka kinerjanya juga semakin rendah.
Hasil analisis koefisien determinan R2= 0,304, hal ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja memberi pengaruh sebesar 30,4 % terhadap kinerja, dengan demikian masihterdapat 69,6 % pengaruh faktor lain yang tidak teridentifikasi dalam penelitian.Faktor-faktor lain yang diduga ber-pengaruh terhadap kinerja pegawai menurut Simamora (1995), Gibson, dkk. (2000) dan As’ad (2004) dikelompokkan menjadi faktor individu, faktor psikologi dan faktor organisasi.
Semakin rendah kepuasan kerja guru yang dirasakan, maka akan semakin rendah kinerjanya. Kepuasan kerja memberikan sumbangan efektif terhadap kinerja sebesar 30,4 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel kepuasan kerja cukup dominan dalam mempengaruhi kinerja guru Pegawai Negeri Sipil di SLB Negeri1 Bantul. Faktor individu yang meliputi kemampuan, ketrampilan, latar belakang dan demografis. Faktor psikologi yang meliputi persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi. Faktor organisasi yang meliputi sumber daya, kepemim-pinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan, sistem pengawasan serta karir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar