(Manusia dan Pandangan Hidup)
(Sumber:Google Reong Ponorogo)
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal
dari Jawa Timur bagian
barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai
kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan.
Setiap manusia mempunyai pandangan
hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu ia menentukan masa
depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup.
Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan,
pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu
merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu
dan tempat hidupnya. Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya
Berkaitan
dengan pandangan hidup sebagai manusia, Reog adalah salah satu budaya daerah di
Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu
kebatinan yang kuat. Pengertian
pandangan hidup itu sendiri adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan
pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Dalam aliran naturalisme,
hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan
tertinggi, kekuatan gaib itu dari natur dan itu pemberian Tuhan.
Seorang pembarong, harus memiliki
kekuatan ekstra. Untuk menjadi pembarong tidak cukup hanya dengan tubuh yang
kuat. Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut
kalangan pembarong dengan wahyu yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu
yang amat penting dalam hidup mereka. Tanpa diberkati wahyu, tarian yang
ditampilkan seorang pembarong tidak akan tampak luwes dan enak untuk ditonton.
Namun demikian persepsi misitis pembarong kini digeser dan lebih banyak
dilakukan dengan pendekatan rasional.
Kewajiban setiap warok untuk
memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu
ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun
dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling
mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan
khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok,
diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar
hawa nafsu kepada perempuan.
Saat ini memang sudah terjadi
pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit
ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang
dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya
digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa
seorang wanita pun. Disini dapat disimpulkan bahwa masih ada beberapa
masyarakat Indonesia yang percaya akan hal seperti itu, memang itu adalah nilai
kebudayaan leluhur kita dan kita harus tetap menghormati setiap kebudayaan yang
ada di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA





Tidak ada komentar:
Posting Komentar