
Keindahan
Tuhan tiada batasnya. Semuanya sangat indah, salah satunya si rona merah dan
oranye yang menghiasi langit saat petang hari.
“Indah
sekali gambar sunset ini ya” Kura tersenyum lebar
“Iya, bagus
banget. Aku sampai ngga kedip lihatnya” Lici mulai memperhatikan gambar sunset
itu
“Ci aku
ingin sekali bertemu sunset. Tapi kapan ya?”
“Kura, kalau
kamu yakin. Suatu saat pasti akan bertemu kok”
“Sedang
membicarakan apa sih kalian?” Sipushi menoleh ke arah Kura dan Lici. Ia melihat
selembar gambar sunset.
“Engga
apa-apa kok. Kita hanya sedang melihat gambar ini” jawab Kura
“Haha
ternyata ada kura-kura dan kelinci yang sedang bermimpi untuk bertemu sunset
ya? Mustahil. Duo K alias kedengkik dan kusam” ledek Sipushi
“Dasar
kucing sombong. Belaga ya kamu !!” Lici terbawa emosi
Sipushi
menghiraukan dan pergi berlalu sambil berkacak pinggang.
***
“Oh Tuhan
aku ingin bertemu dengan sunset” bisik Kura dalam hatinya
Tiba-tiba saja Ibu Kura datang menghampiri Kura yang sedang
melamun.
“Kau kenapa
nak? Sedang melamunkan apa?” tanyanya
“Tidak mak.
Aku hanya sedang berharap bisa bertemu sunset”
“Kau ini
ada-ada saja. Mana mungkin bisa kau melihat sunset. Dia kan berada di dekat
pantai, kita hanya tinggal di sebuah pinggiran sungai yang kumuh” nasihat ibu
kura
Kura pun
menunduduk, air matanya jatuh ke dasar tanah. Dia menyadari bahwa hidupnya
bukan di sebuah pantai yang indah. Dimana sunset selalu mengenggelamkan
tubuhnya.
“Kuraaaa
main yuk, kita berkeliling daerah sini. Aku bosan di rumah terus” Lici
berteriak memanggil nama Kura
Sambil
menyeka air matanya Kura keluar menemui Lici
“Boleh. Mau
main kemana?”
“Kita ke
taman Biangkara saja. Sambil mengobrol”
Di
perjalanan, Kura hanya terdiam saja daritadi. Padahal Lici tiada hentinya
bercerita tentang kekesalannya pada Sipushi yang selalu saja menganggap dirinya
dan Kura itu rendah dan tidak pantas untuk bertemu dengan Sunset.
“Hei are you
okey Kura?”
“Hmm yes.
I’m okey”
“Kita ke
dekat perahu itu aja” Lici menunjuk Perahu yang sedang berada di sungai dekat
taman Biangkara.
Saat Kura
dan Lici sedang duduk di perahu itu, mendadak perahu itu berbicara kepada
mereka
“Selamat
sore anak-anak manis” sapa sang perahu tua itu
“Sore jugaa
pak perahu. Apakah anda memiliki keahlian khusus untuk berbicara?” wajah Lici
seperti orang kebingungan
“Tidak nak.
Aku datang ke sini sengaja untuk mengajak kalian bertemu dengan Sunset. Aku
tahu kalian sangat suka sunset, tetapi kalian tidak tahu bagaimana caranya
kan?”
“Iya pak.
Benar bapak bisa membawa kami bertemu dengan Sunset?” Kura yang tadinya diam,
setelah mendengar Sunset langsung semangat
Kura dan
Lici pun menuruti perkataan pak Perahu untuk terus mendayung ke arah Barat.
Sebuah keajaiban, dari perjalanan mereka yang tadinya berada di sungai kini
sudah berada di lautan. Tempat sunset akan tenggelam. Mereka mendayung pak
Perahu lagi untuk sampai di tepi Pantai.
“Kita sudah
sampai. Horeeee akhirnya aku bisa bertemu Sunset” Kura bersorak kegirangan
“Coba kalian
hening, lihat ke depan sana” perintah pak Perahu
Langit yang
tampak indah, yang mulanya berwarna biru kini mulai berganti menjadi warna
jingga. Matahari itu... mulai bersembunyi. Tidak salah lagi itu Sunsetnya.
Terpancar di wajah Kura dan Lici rasa kebahagian, dan keharuan. Dimana titik
perjuangan mereka telah sampai pada akhir. Ini akhir cerita impian Kura dan
Lici. Semua usaha dan cemooh yang mereka dapatkan kini mendapat balasan.
“Lici... aku
ingin seperti sunset di petang hari, tetap memberikan keindahan pada semua
manusia yang melihatnya. Memberi kesan yang indah pada mereka yang mengenalku”
Kura menggenggam tangan Lici
“Iya ra. Aku
juga” tersenyum dengan bibir tipisnya
“Makasih pak
Perahu” Kura dan Lici memeluk dan mengucapkan terima kasih pada Pak Perahu di
temani dengan burung-burung yang beterbangan di langit dan tentunya SUNSET.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar