Minggu, 27 Oktober 2019

Kura-kura & Kelinci Yang Bermimpi


kelinci-kura2.jpg.gif 














            Keindahan Tuhan tiada batasnya. Semuanya sangat indah, salah satunya si rona merah dan oranye yang menghiasi langit saat petang hari. 
            “Indah sekali gambar sunset ini ya” Kura tersenyum lebar
            “Iya, bagus banget. Aku sampai ngga kedip lihatnya” Lici mulai memperhatikan gambar sunset itu
            “Ci aku ingin sekali bertemu sunset. Tapi kapan ya?”
            “Kura, kalau kamu yakin. Suatu saat pasti akan bertemu kok”
            “Sedang membicarakan apa sih kalian?” Sipushi menoleh ke arah Kura dan Lici. Ia melihat selembar gambar sunset.
            “Engga apa-apa kok. Kita hanya sedang melihat gambar ini” jawab Kura
            “Haha ternyata ada kura-kura dan kelinci yang sedang bermimpi untuk bertemu sunset ya? Mustahil. Duo K alias kedengkik dan kusam” ledek Sipushi
            “Dasar kucing sombong. Belaga ya kamu !!” Lici terbawa emosi
            Sipushi menghiraukan dan pergi berlalu sambil berkacak pinggang.

***
            “Oh Tuhan aku ingin bertemu dengan sunset” bisik Kura dalam hatinya
Tiba-tiba saja Ibu Kura datang menghampiri Kura yang sedang melamun.
            “Kau kenapa nak? Sedang melamunkan apa?” tanyanya
            “Tidak mak. Aku hanya sedang berharap bisa bertemu sunset”
            “Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin bisa kau melihat sunset. Dia kan berada di dekat pantai, kita hanya tinggal di sebuah pinggiran sungai yang kumuh” nasihat ibu kura
            Kura pun menunduduk, air matanya jatuh ke dasar tanah. Dia menyadari bahwa hidupnya bukan di sebuah pantai yang indah. Dimana sunset selalu mengenggelamkan tubuhnya.
            “Kuraaaa main yuk, kita berkeliling daerah sini. Aku bosan di rumah terus” Lici berteriak memanggil nama Kura
            Sambil menyeka air matanya Kura keluar menemui Lici
            “Boleh. Mau main kemana?”
            “Kita ke taman Biangkara saja. Sambil mengobrol”
            Di perjalanan, Kura hanya terdiam saja daritadi. Padahal Lici tiada hentinya bercerita tentang kekesalannya pada Sipushi yang selalu saja menganggap dirinya dan Kura itu rendah dan tidak pantas untuk bertemu dengan Sunset.
            “Hei are you okey Kura?”
            “Hmm yes. I’m okey”
            “Kita ke dekat perahu itu aja” Lici menunjuk Perahu yang sedang berada di sungai dekat taman Biangkara.
            Saat Kura dan Lici sedang duduk di perahu itu, mendadak perahu itu berbicara kepada mereka
            “Selamat sore anak-anak manis” sapa sang perahu tua itu
            “Sore jugaa pak perahu. Apakah anda memiliki keahlian khusus untuk berbicara?” wajah Lici seperti orang kebingungan
            “Tidak nak. Aku datang ke sini sengaja untuk mengajak kalian bertemu dengan Sunset. Aku tahu kalian sangat suka sunset, tetapi kalian tidak tahu bagaimana caranya kan?”
            “Iya pak. Benar bapak bisa membawa kami bertemu dengan Sunset?” Kura yang tadinya diam, setelah mendengar Sunset langsung semangat
            Kura dan Lici pun menuruti perkataan pak Perahu untuk terus mendayung ke arah Barat. Sebuah keajaiban, dari perjalanan mereka yang tadinya berada di sungai kini sudah berada di lautan. Tempat sunset akan tenggelam. Mereka mendayung pak Perahu lagi untuk sampai di tepi Pantai.
            “Kita sudah sampai. Horeeee akhirnya aku bisa bertemu Sunset” Kura bersorak kegirangan
            “Coba kalian hening, lihat ke depan sana” perintah pak Perahu
            Langit yang tampak indah, yang mulanya berwarna biru kini mulai berganti menjadi warna jingga. Matahari itu... mulai bersembunyi. Tidak salah lagi itu Sunsetnya. Terpancar di wajah Kura dan Lici rasa kebahagian, dan keharuan. Dimana titik perjuangan mereka telah sampai pada akhir. Ini akhir cerita impian Kura dan Lici. Semua usaha dan cemooh yang mereka dapatkan kini mendapat balasan.
            “Lici... aku ingin seperti sunset di petang hari, tetap memberikan keindahan pada semua manusia yang melihatnya. Memberi kesan yang indah pada mereka yang mengenalku” Kura menggenggam tangan Lici
            “Iya ra. Aku juga” tersenyum dengan bibir tipisnya
            “Makasih pak Perahu” Kura dan Lici memeluk dan mengucapkan terima kasih pada Pak Perahu di temani dengan burung-burung yang beterbangan di langit dan tentunya SUNSET.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar