Rabu, 05 Oktober 2016

Suara Kalbu Penari Gandrung


(Manusia dan Tanggung Jawab Serta Pengabdian)

(Sumber:Google Tari Gandung Banyuwangi)

Mungkin akan terasa asing jika kita mendengar kata “Gandrung”.  Gandrung Banyuwangi adalah salah satu jenis tarian yang berasal dari Banyuwangi. Arti kata Gandrung sendiri berasal dari istilah kata "Gandrung" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Kesenian ini dapat dikatakan sebagai ibu dari berbagai kesenian di Banyuwangi. Angklung Banyuwangi sendiri juga sangat dipengaruhi oleh kesenian Gandrung Banyuwangi. Penari perempuan Gandrung pertama adalah Semi, seorang anak kecil yang pada tahun 1895 masih berusia sepuluh tahun. Namun dari catatan lain mengatakan bahwa penari gandrung  dahulu dilakukan oleh seorang lanang (laki-laki) dengan berpakaian wanita

Dikisahkan dalam sebuah short movie, seorang perempuan penari Gandung yang bernama Mesti (05-Juli-1954). Ia lahir pada malam kamis wage. Saat ia lahir ayahnya sedang bekerja di Kawah Ijen. Ketika memasuki usia 6 bulan, ia sering mengalami sakit-sakitan. Karena melihat kondisinya yang buruk, sang bude pun tidak tega. Bude merawat Mesti hingga sembuh, bahkan mengangkat Mesti sebagai seorang anak karena beliau sendiri tidak memiliki anak. Bude juga berjanji pada Mesti ketika ia sembuh akan dijadikannya penari Gandrung. Mesti besar tumbuh menjadi seorang penari Gandrung yang sangat terkenal di desanya. Dia bahkan dijuluki sebagai “Gandrung Temu Mudaiyah”.
Fungsi dari kesenian Gandrung Banyuwangi itu sendiri adalah sebagai tari pergaulan.  Tari Gandrung memiliki ciri khas mulai dari gerakan, iringan serta vocal. Tari gandrung sendiri memiliki 3 tahap dalam penyajiannya, berikut 3 tahap penyajian itu sendiri :
1.      Jejer Gandrung, penari melakukan tarian dengan sendiri dengan diiringi lagu Podo Nonton
2.      Macu Gandrung, yaitu melayani para tamu, pada tahapan inilah sering terjadi kegiatan atau adegan yang kadang-kadang di luar norma .
3.      Tahap ke-3, dimana penari menyanyi dengan lirik dan pantun yang penuh dengan nasehat serta permintaan maaf pada penonton dengaan penampilannya.
Menjadi penari Gandrung amatlah tidak mudah. Banyak tanggung jawab serta pengabdian-pengabdian yang harus dilakukan. Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. sehingga bertanggung jawab adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, dan memberikan jawab serta menanggung akibatnya. Sedangkan pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih , kasih sayang, hormat,atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggungjawab Walau terkadang banyak orang yang bersikap kurang etis. Namun dengan lapang dada serta keikhlasan mereka menerima semuanya. Penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negative di tengah masyarakat luas.
Unsur tanggung jawab dan pengabdian yang terdapat di film tersebut dapat dilihat bagaimana kesungguhan penari Gandrung yang rela sepenuh hati untuk melakukan kewajibannya sebagai penari walau terdapat banyak hambatan seperti halnya tidak dihargai oleh penonton. Pengabdian mereka terhadap kebudayaan nenek moyang juga patut kita apresiasikan. Di zaman seperti ini sudah jarang  ditemukan pelestarian kebudayaan Indonesia.
             Dalam film diceritakan pula jika Mesti sulit untuk mendapatkan sebuah kebahagian seutuhnya di dalam keluarga kecilnya. Berulang kali ia menikah namun keduanya kandas ditengah jalan. Mesti seakan-akan mendapat  cobaan yang tiada habisnya. Berbanding terbalik dengan tarian yang dibawanya. Dilain hal ia terus mengabdi pada tarian Gandrung. Mesti berjanji jika suatu saat ia dikaruniai seorang anak, ia akan menjaga, merawat serta mendidiknya. Satu hal lagi yang Mesti inginkan jika ia mempunyai seorang anak, ia tidak akan menjadikan anaknya seorang penari Gandrung. Cukup dirinya saja yang menjadi penari Gandrung karena ia tidak ingin anaknya merasakan penderitaan yang ia alami.
Beberapa yang dapat kita petik dari sepenggal film ini, yaitu kisah dimana seorang yang mempunyai rasa tanggung jawab disertakan dengan pengabdiannya sebagai seorang penari. Tanggung jawab serta pengabdian ini seharusnya tidak hanya dipikul oleh penari gandrung saja,seharusnya  kita sebagai bangsa Indonesia sendiri terutama generasi muda yang memiliki kebudayaan tersebut harus melestarikannya pula. Karena kesenian ini berasal dari Negara kita, sepatutnya harus dijaga dengan baik

DAFTAR PUSTAKA :
    

             



1 komentar:

  1. dear mbak, maaf OOT....judul lagu Korea yang jadi pembuka di halaman ini apa ya?

    BalasHapus