(Manusia dan Tanggung Jawab Serta Pengabdian)
(Sumber:Google Tari Gandung Banyuwangi)
Mungkin akan terasa asing jika kita
mendengar kata “Gandrung”. Gandrung Banyuwangi adalah
salah satu jenis tarian yang berasal dari Banyuwangi. Arti kata Gandrung sendiri berasal
dari istilah kata "Gandrung" diartikan sebagai terpesonanya
masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Kesenian ini dapat dikatakan sebagai
ibu dari berbagai kesenian di Banyuwangi. Angklung Banyuwangi sendiri juga
sangat dipengaruhi oleh kesenian Gandrung Banyuwangi. Penari perempuan Gandrung
pertama adalah Semi, seorang anak kecil yang pada tahun 1895 masih berusia
sepuluh tahun. Namun dari catatan lain mengatakan bahwa penari gandrung dahulu
dilakukan oleh seorang lanang (laki-laki) dengan berpakaian wanita
Dikisahkan dalam sebuah short movie, seorang perempuan penari Gandung yang bernama Mesti (05-Juli-1954). Ia lahir pada malam kamis wage. Saat ia lahir ayahnya sedang bekerja di Kawah Ijen. Ketika memasuki usia 6 bulan, ia sering mengalami sakit-sakitan. Karena melihat kondisinya yang buruk, sang bude pun tidak tega. Bude merawat Mesti hingga sembuh, bahkan mengangkat Mesti sebagai seorang anak karena beliau sendiri tidak memiliki anak. Bude juga berjanji pada Mesti ketika ia sembuh akan dijadikannya penari Gandrung. Mesti besar tumbuh menjadi seorang penari Gandrung yang sangat terkenal di desanya. Dia bahkan dijuluki sebagai “Gandrung Temu Mudaiyah”.
Fungsi
dari kesenian Gandrung Banyuwangi itu sendiri adalah sebagai tari
pergaulan. Tari Gandrung memiliki ciri khas mulai dari gerakan,
iringan serta vocal. Tari gandrung sendiri memiliki 3 tahap dalam penyajiannya,
berikut 3 tahap penyajian itu sendiri :
1. Jejer
Gandrung, penari melakukan tarian dengan sendiri dengan diiringi lagu Podo
Nonton
2. Macu
Gandrung, yaitu melayani para tamu, pada tahapan inilah sering terjadi kegiatan
atau adegan yang kadang-kadang di luar norma .
3. Tahap
ke-3, dimana penari menyanyi dengan lirik dan pantun yang penuh dengan nasehat
serta permintaan maaf pada penonton dengaan penampilannya.
Menjadi
penari Gandrung amatlah tidak mudah. Banyak tanggung jawab serta
pengabdian-pengabdian yang harus dilakukan. Tanggung
jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung
segala sesuatunya. sehingga bertanggung jawab adalah berkewajiban menanggung,
memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, dan memberikan jawab serta
menanggung akibatnya. Sedangkan pengabdian adalah perbuatan baik yang
berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta
kasih , kasih sayang, hormat,atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan
ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggungjawab. Walau terkadang banyak orang yang bersikap kurang
etis. Namun dengan lapang dada serta keikhlasan mereka menerima semuanya.
Penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negative di tengah
masyarakat luas.
Unsur tanggung jawab
dan pengabdian yang terdapat di film tersebut dapat dilihat bagaimana
kesungguhan penari Gandrung yang rela sepenuh hati untuk melakukan kewajibannya
sebagai penari walau terdapat banyak hambatan seperti halnya tidak dihargai
oleh penonton. Pengabdian mereka terhadap kebudayaan nenek moyang juga patut
kita apresiasikan. Di zaman seperti ini sudah jarang ditemukan
pelestarian kebudayaan Indonesia.
Beberapa
yang dapat kita petik dari sepenggal film ini, yaitu kisah dimana seorang yang
mempunyai rasa tanggung jawab disertakan dengan pengabdiannya sebagai seorang
penari. Tanggung jawab serta
pengabdian ini seharusnya tidak hanya dipikul oleh penari gandrung
saja,seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia sendiri terutama
generasi muda yang memiliki kebudayaan tersebut harus melestarikannya pula.
Karena kesenian ini berasal dari Negara kita, sepatutnya harus dijaga dengan
baik
DAFTAR PUSTAKA :





dear mbak, maaf OOT....judul lagu Korea yang jadi pembuka di halaman ini apa ya?
BalasHapus